bahan untuk koloqium biologi bagian 1

BIOSCIENTIAE
Volume 4, Nomor 2, Juli 2007, halaman 63-70
http://bioscientiae.unlam.ac.id
63
PENGARUH EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L)
TERHADAP VIABILITAS SPERMATOZOA
MENCIT JANTAN (Mus musculus L)
Rusmiati
Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat
Jalan A. yani Km 35,8 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
ABSTRACT
The low participation of men in Family Planning Program is caused by the limited choices of
contraception for men. The purpose of this research is to find out the effects of secang woods
extract on the spermatozoa viability of male mice, it is expected that some day secang wood could
be formulated into components of oral contraception for male.
Thirty male mice weigh 25-30 g of 2,5 month old are grouped using Complete Random
Design (RAL) factorial patterned 2×5 witn n=3. The extract of secang wood is made as ethanol
extract, chloroform and water fraction each with 50 mg/25 g weight and given 1 ml orally each
day. The analysis of the spermatozoa viability is conducted by supravital painting. The observation
of preparation is done by 400x magnification. The living spermatozoa are colorless and the dead
ones are red. The observation is conducted twice. Ten days after the extract is given (to identify
the changes) and ten days after the extraααct is stopped (to see the recovery of spermatozoa). The
gathered data is tested using Anava (α = 0,05) and DMRT (α = 0,05). The result shows that
the extract of secang wood can lower the viability of mice spermatozoa.
Key words : Secang wood, viability, spermatozoa, men oral contraception.
Rusmiati – Pengaruh ekstrak kayu secang terhadap spermatozoa mencit
64
PENDAHULUAN
Program Keluarga Berencana (KB)
telah dicanangkan oleh pemerintah Republik
Indonesia sebagai program nasional. Salah
satu usaha yang telah dilaksanakan dalam
program KB adalah penyediaan sarana
kontrasepsi . Penggunaan kontrasepsi pada
prinsipnya adalah untuk mencegah terjadinya
pembuahan atau peleburan antara sel sperma
pria dengan sel telur wanita. Sarana
kontrasepsi ini lebih banyak ditujukan pada
kaum wanita, sedangkan pada pria masih
terbatas, sehingga perkembangan kontrasepsi
pria jauh tertinggal dibandingkan dengan
kontrasepsi wanita (Wardoyo,1990).
Rendahnya partisipasi pria dalam
program Keluarga Berencana dikarenakan
oleh terbatasnya pilihan kontrasepsi pria
yang dapat digunakan (BPS, 1999). Sampai
saat ini metode kontrasepsi pria hanya
kondom, vasektomi, dan penyuntikan
hormon (Wilopo, 2006). Namun, hasilnya
belum sepenuhnya diterima masyarakat,
karena memberikan efek samping yang tidak
dapat diabaikan (penyuntikan hormon) dan
belum 100% mencegah kehamilan (kondom
dan penyuntikan hormon) (Moeloek,1990).
Agar lebih mendorong kaum pria
untuk berperan aktif dalam mengikuti
program KB, maka sangatlah tepat untuk
lebih banyak menyediakan sarana
kontrasepsi untuk kaum pria, sehingga kaum
pria memiliki alternatif sesuai pilihannya.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka
penelitian kearah penemuan kontrasepsi pria
merupakan tantangan bagi ahli reproduksi
untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila alat
kontrasepsi pria tersedia cukup, baik jumlah,
jenis, maupun kualitasnya, maka akan
memudahkan akseptor untuk memilih
kontrasepsi yang cocok bagi dirinya. Bagi
tenaga medis, akan lebih mudah dan cepat
dalam memberikan pelayanan pada para
akseptor (Sutyarso, dkk, 1994).
Dari beberapa penelitian ternyata
bahwa tanaman masih merupakan sumber
utama dalam pencarian obat baru. Oleh
sebab itu pemanfaatan bahan tanaman masih
merupakan prioritas untuk diteliti mengingat
bahan obat-obatan yang berasal dari tanaman
mempunyai keuntungan tersendiri yaitu
toksisitasnya rendah, mudah diperoleh,
murah harganya dan kurang menimbulkan
efek samping (Nurhuda,dkk.,1995).
Indonesia yang terkenal kaya dengan
jenis-jenis tanaman mempunyai kesempatan
untuk memperoleh bahan kontrasepsi pria.
Salah satu diantara tanaman tersebut adalah
secang (Caesalpinia sappan L). Tanaman ini
secara empirik dan pembuktian secara in
vitro mempunyai efek antifertilitas pada sel
spematozoa donor manusia (Shih,1990).
Hasil penelitian Astuti, dkk., 1995
mendapatkan secara invivo ekstrak kayu
BIOSCIENTIAE. 2007. 4(2): 63-70
65
secang dapat menurunkan motilitas
spermatozoa mencit. Rusmiati (1999)
menemukan bahwa ekstrak kayu secang
dapat mengurangi jumlah morfologi normal
spermatozoa mencit.
Sampai saat ini parameter sermatozoa
masih merupakan indikator terpenting pada
evaluasi fertilitas pria. Salah satu indikator
yang menentukan terjadinya fertilisasi atau
terbentuknya embrio adalah viabilitas (daya
hidup) spermatozoa, mengingat faktor
tersebut erat kaitannya dengan fungsi
spermatozoa itu. Dengan rendahnya
viabilitas maka pembuahan tidak akan
terjadi sebab spermatozoa mati sebelum
membuahi sel telur. Peneliti mengindikasi
bahwa dengan terganggunya viabilitas
spermatozoa akan menyebabkan penurunan
fertilitas.
Berdasarkan hal tersebut di atas , yang
menjadi permasalahan adalah : (1) Apakah
pemberian ekstrak kayu secang berpengaruh
terhadap viabilitas (daya hidup) spermatozoa
mencit? (2). Bagaimana pengaruhnya kalau
pemberian ekstrak dihentikan?
Tujuan Penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh ekstrak kayu secang
terhadap viabilitas spermatozoa dan
pengaruhnya kalau pemberian ekstrak
dihentikan.
Manfaat Penelitian adalah sebagai
bahan informasi kepada masyarakat tentang
kemungkinan penggunaan ekstrak kayu
secang sebagai alternatif bahan kontrasepsi
oral pria.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di labotarorium
Dasar FMIPA Unlam Banjarbaru dari bulan
Desermber 2004 sampai Mei 2005 dengan
tahapan sebagai berikut:
Ekstrak dan Fraksi Kayu Secang
Simplisia kayu secang kering dibuat
serbuk dan dimaserasi dengan ethanol 90%
selama 1 jam, diendapkan selama 24 jam,
disaring, diuapkan sampai diperoleh ekstrak
kering. Sebagian ekstrak diambil untuk
analisis viabilitas spermatozoa dan sebagian
lagi diekstraksi dengan kloroform dan air,
disaring, diuapkan hingga diperoleh fraksi
kloroform dan fraksi air kering.
Rancangan Percobaan
Tiga puluh ekor mencit jantan strain
DII umur 2,5 bulan dengan berat 2,5 – 3 g
dikelompokkan berdasarkan rancangan Acak
Lengkap (RAL) berpola faktorial. Perlakuan
terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah
ekstrak kayu secang yang terdiri dari 5 taraf :
kontrol, plasebo, ekstrak etanol, fraksi
kloroform dan fraksi air, masing-masing
dengan dosis 50 mg/25 g bb. Faktor kedua
adalah waktu pengamatan yang terdiri dari 2
taraf : 10 hari setelah pemberian ekstrak
kayu secang (pengamatan pertama), untuk
Rusmiati – Pengaruh ekstrak kayu secang terhadap spermatozoa mencit
66
melihat perubahan viabilitas spermatozoa
yang terjadi karena pengaruh ekstrak kayu
secang dan 10 hari setelah perlakuan
dihentikan untuk melihat reversibilitas
viabilitas spermastozoa. Setiap perlakuan
diulang 3 kali.
Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Larutan plasebo, ekstrak dan fraksi
diberikan pada hewan uji per oral dengan
spuit 1 ml setiap hari. Setelah 10 hari,
pemberian ekstrak kayu secang di hentikan
dan diadakan pengamatan pertama. Tiga
mencit jantan dari masing-masing
kelompok dinarkosis dengan kloroform,
dibedah dan diambil kauda epididimisnya
untuk di analisis viabilitas spermatozoanya
(pengamatan I). Mencit jantan yang lain
tetap di pelihara tanpa diberi perlakuan.
Sepuluh hari setelah perlakuan dihentikan, 3
mencit sisa dari masing-masing kelompok
diambil kauda epididimisnya untuk
diperlakukan seperti di atas (pengamatan II).
Pembuatan Suspensi dan
Pemeriksaan Viabilitas Spermatozoa
Epididimis
Kauda epididimis diambil, dimasukkan
kedalam cawan petri berisi 1 ml garam
fisiologis, dipotong dengan gunting kecil
hingga halus dan diaduk dengan gelas
pengaduk. Suspensi spermatozoa yang di
peroleh dapat digunakan untuk analisis
viabilitas spermatozoa (Suhadi dan Arsyad,
1983). Analisis viabilitas dilakukuan dengan
pengecatan supravital, yaitu 1 tetes sperma
diletakkan diatas gelas objek, ditambahi 1
tetes larutan eosin, diaduk. Setelah itu dibuat
sediaan apusan dan dikeringkan di udara.
Pengamatan sediaan dibawah mikroskop
dengan pembesaran 400 X. Spermatozoa
yang hidup tidak berwarna, sedangkan yang
mati berwarna merah. Dihitung 200
spermatozoa,hasil dinyatakan dalam persen.
Pengumpulan dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan bersifat
kuantitatif berupa parameter perhitungan
jumlah viabilitas spermatozoa dalam
epididimis. Data ini disajikan dalam bentuk
mean dan standard deviation. Untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan
terhadap parameter yang diukur, dilakukan
pengujian dengan Anava α = 0, 05. apabila
terdapat perbedaan yang berarti maka
dilakukan uji lanjut dengan Duncan’s
Multiple Range Test (DMRT), untuk melihat
letak perbedaan pengaruh antar perlakuan
(Sokal dan Rohlf, 1991).
HASIL
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
data viabilitas spermatozoa epididimis
mencit seperti yang disajikan pada tabel 1.
BIOSCIENTIAE. 2007. 4(2): 63-70
67
Berdasarkan tabel tersebut didapatkan
bahwa dengan uji analisis variansi (α = 0,
05) terlihat bahwa terdapat pebedaan yang
bermakna antar perlakuan (p 0, 05) .
Dengan uji Duncan terlihat bahwa
perbedaan yang bermakna itu terjadi antara
perlakuan (ekstrak etanol, fraksi kloroform
dan fraksi air) dengan kontrol dan plasebo,
dengan daya hidup spermatozoa lebih kecil
pada kelompok perlakuan. Hal ini
menunjukkan bahwa zat aktif kayu secang
menimbulkan pengaruh yang berarti dalam
menurunkan daya hidup spermatozoa.
Seperti diketahui suatu bahan
antifertilitas dapat bersifat sitotoksik atau
bersifat hormonal dalam memberikan
pengaruhnya. Bila bersifat sitotoksik maka
pengaruhnya langsung terhadap sel kelamin,
dan bila bersifat hormonal maka bekerja
pada organ yang responsif terhadap hormon
yang berkaitan (Sutasurya, 1989).
Dari penelitian sebelumnya
disebutkan bahwa ekstrak kayu secang
mempunyai aktivitas sebagai bahan
kontrasepsi, baik yang bersifat sitotoksik
karena adanya saponin maupun yang bersifat
hormonal karena adanya alkaloid, flavonoid
dan steroid.
Tabel 1 Rerata dan simpangan baku viabilitas spermatozoa setelah diberi ekstrak kayu secang
(pengamatan I ) dan setelah pemberian ekstrak dihentikan (pengamatan II)
Perlakuan Pengamatan pertama (I) Pengamatan Kedua (II)
Kontrol 75, 43 ± 0, 45 a 76, 31 ± 7, 60 a
Plasebo 73, 26 ± 2, 46 a 75, 49 ± 3, 16 a
Ekstrak Etanol 65, 18 ± 1, 91 b 67, 22 ± 0, 80 b
Fraksi kloroform 64, 93 ± 1, 95 b 66, 19 ± 1, 63 b
Fraksi air 64, 00 ± 2, 98 b 65, 26 ± 3, 43 b
Keterangan : 1. n setiap kelompok = 3
2. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang
sama menunjukkan beda nyata p<0,05.
Rusmiati – Pengaruh ekstrak kayu secang terhadap spermatozoa mencit
68
Proses spermatogenesis merupakan
siklus yang rumit dan teratur dalam
pembentukan spermatozoa . Selama proses
tersebut berlangsung, aktivitas sel
spermatogenik sangat tinggi yaitu terjadi
perubahan morfologi dan biokimia untuk
membentuk spermatozoa yang fungsional.
Spermatozoa ini dalam perjalanannya
menuju vas deferens tidak semuanya dapat
mempertahankan kehidupannya sehingga ada
sebagian yang mati.
Karena spermatozoa berasal dari
perubahan sel spermatogenik dalam tubulus
seminiferus selama spermatogenesis,diduga
bahwa menurunnya viabilitas spermatozoa
epididimis dalam penelitian ini terjadi
melalui gangguan keseimbangan hormonal
selama spermatogenesis.Seperti yang telah
disebutkan dalam tinjauan pustaka, secang
termasuk bersifat sebagai estrogen alami
(Robinson, 1995).
Kadar estrogen yang relatif tinggi
karena pengaruh ekstrak kayu secang yang
bersifat estrogenik menyebabkan
terganggunya fungsi reproduksi melalui
hambatan terhadap sekresi FSH. Dengan
adanya hambatan tersebut, spermatogenesis
terhenti dengan segera dan pemberian lebih
lanjut dapat menyebabkan terjadinya
sterilitas (Gorgman dan Bern, 1974).
Menurut Granner (1985) adanya estrogen
menyebabkan inhibisi baik pada sekresi FSH
maupun LH. Kondisi tersebut juga
menghambat sekresi LH melalui umpan
balik negatif terhadap hipotalamus-hipofisis.
Hal ini dapat menekan pembentukan
testosteron secara langsung pada sel Leydig,
sehingga terjadi gangguan keseimbangan
hormonal.Hal ini jelas akan menurunkan
kualitas soermatozoa yang dihasilkannya
yaitu viabilitas spermatozoa.
Kemungkinan lain menurunnya
viabilitas spermatozoa ini karena adanya
hambatan dalam epididimis sebagai tempat
pematangan spermatozoa. Di dalam
epididimis ini disekresi zat yang penting
dalam menunjang proses pematangan
spermatozoa seperti ion (Ca, Na, K, Cl),
substrat (protein, asam sialat, glikogen, asam
laktat, fosfolipid) dan enzim (LDH, fosfatase
asam dan fosfatase basa) (Riar, et al, 1973,
dalam sutyarso, dkk., 1994). Apabila ketiga
unsur tersebut tidak tersedia dalam jumlah
cukup, maka proses pematangan
spermatozoa akan terganggu., akibatnya
kualitas spermatozoa akan menurun.
Secara fungsional epididimis sangat
tergantung pada hormon testosteron .
Sebagaimana diketahui, testosteron
diperlukan untuk daya hidup spermatozoa
dalam epididimis (Arsyad, 1986). Karena
adanya gangguan kerja hormon akibat
pemberian ekstrak kayu secang , akan
menyebabkan daya hidup spermatozoa
menurun sehingga banyak spermatozoa yang
mati.
BIOSCIENTIAE. 2007. 4(2): 63-70
69
Tidak terdapatnya perbedaan yang
bermakna antar waktu pengamatan
kemungkinan disebabkan oleh karena
waktunya yang terlalu singkat , yaitu hanya
10 hari. Kemungkinan diperlukan waktu
yang lebih lama untuk proses pemulihan ini,
karena spermatozoa sudah terlanjur
mengalami kerusakan.Diduga spermatozoa
yang dapat mengalami pemulihan adalah
spermatozoa yang mampu beradaptasi.
Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kayu
secang berpengaruh terhadap penurunan
jumlah viabilitas spermatozoa mencit.
Apabila pemberian ekstrak dihentikan
cenderung terjadi peningkatan jumlah
viabilitas spermatozoa. Disarankan agar
diadakan penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui pengaruh pemberian ekstrak
kayu secang sebagai kontrasepsi bagi pria
terhadap organ tubuh lain seperti ginjal dan
hepar. Selain itu, perlu dilakukan penelitian
lanjutan untuk mengetahui seberapa lama
daya pulih viabilitas spermatozoa untuk
kembali normal setelah pemberian ekstrak
dihentikan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang
melalui Lembaga Penelirian Universitas
Lambung Mangkurat telah mendanai
penelitian ini, sesuai dengan Surat Perjanjian
No. 043/SPP/PP/DP3M/IV/2005 tanggal 11
April 2005
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, K.M, 1986. Kemungkinan
pengembangan kontrasepsi pria.
Majalah Medika. 4 ( XII, April 1986
Arsyad, K M dan Hayati, L, 1989.
Penunutun Laboratorium WHO untuk
Pemeriksaan Semen Manusia dan
Interaksi. Balai Pustaka, Jakarta.
Astuti, Y. B, Zulkarnain, S. Sundari, 1995,
Penelitian ekstrak Kayu Secang
(Caesalpinia sappan L) terhadap
Motilitas Spermatozoa Dan Laju
Fertilitas Mus musculus L. Seminar
Nasional Tumbuhan Obat Indonesia
IX, Yogyakarta
Biro Pusat Statistik, 1999. Statistik
Kesejahteraan Rakyat, Survei Sosial
Ekonomi Nasional. BPS, Jakarta.
Brooks, 1979, Metalotic Activity in The
Epididimis and The Regulation by
Androgen. Physical. Rev. 61.
Gorbman, A. and H. A. Bern, 1974. A
Textbook of Comparative
Endocrinology, Prentice Hall Inc.,
New Jersey.
Granner, D. k., 1985, Hormon Kelamin
dalam Biokimia (Harper’s Review of
Biochemistry), Edisi ke-20, Ian
Darmawan (Penerjemah). EGC,
Jakarta.
Nur Huda, O. Soeradi, N. Suhana dan M.
Sadikin, 1995, Pengaruh Pemberian
Buah Pare Terhadap Jumlah dan
Motilitas Spermatozoa Tikus Jantan
Strain LMR. Jurnal Kedokteran
YARSI, vol. 3. no 2, Mei 1995
Parcy, B, Clearmant, Y, Leblionme, m. C. P,
1961. The Wave of The Seminiferus
Epididimis. Journal of Anatomy, 108
Rusmiati, 1999. Gambaran Struktur
Morfologi Spermatozoza Epididimis
Mencit Setelah Perlakuan Dengan
Ekstrak Kayu secang. Laporan
Penelitian. Proyek Pengembangan Diri
Rusmiati – Pengaruh ekstrak kayu secang terhadap spermatozoa mencit
70
(PPD) HEDS. Universitas Lambung
Mangkurat, Banjarmasin.
Robinson, T., 1995. The Organic
Constituents of Higher Plants. Edisi
ke-6. Kosasih Padmawinata
(Penerjemah). Penerbit ITB, Bandung.
Sokal, R. R dan F. J Rohlf, 1991,
Introduction to Biostatistics. Edisi Ke-
2. Nasrullah (Penerjemah). Gajah
Mada University Press, Yogyakarta.
Suhadi, K dan K. M Arsyad, 1983. Analisis
Sperma, Airlangga University Press,
Surabaya
Shih, I. M., 1990, Anti Motility Effects of
Chinese Herbal Medicines on Human
Sperms, Journal of Farmosom Medica
Asscociates
Sutasurya, L. A., 1988. Evaluasi Bahan Anti
Fertilitas Alami Melalui Pengukian
Organ-organ Reproduksi. Seminar
Hasil Penelitian Pangan Dan Gizi,
Ilmu Hayati dan Bioteknologi PAU
Universitas Gajah Mada UGM
Yogyakarta.
Sutyarso, O. Soeradi dan N. Suhana, 1994,
Efek Anti Fertilitas Ekstrak Buah Pare
Pada Mencit Jantan. Majalah
Kedokteran Indonesia, Vol 44, no 12,
Desember 1994
Wardoyo, B. P. E., 1990. Pengaruh Fraksi
Kloroform dan Fraksi Air dan Buah
Momordica charantia terhadap
Spermatozoa epididimis Tikus. Tesis
Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: