Bahan untuk koloqium Biologi 2

Udju D. Rusdi dkk; Efek Ekstrak Kayu Secang, vitamin E dan dan Vitamin C terhadap …
66
Efek Ekstrak Kayu Secang , Vitamin E dan dan vitamin C terhadap Status
Antioksidan Total (SAT) Pada Mencit yang terpapar Aflatoksin
Wood Extract of Secang, Vitamin of E and Vitamin C Effect against
Total Antioxidant Status on Mice by the Aflatoxin Exposure
Udju D. Rusdi, W. Widowati dan E.T. Marlina
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Abstract
This study was conducted to know the effect extract wood of secang (EKS), vitamin E and
vitamin C to status of antioxidant total (SAT) at mice which was aflatoxin exposure. The subject
consisted of 39 tails mice, 8 weeks old with the body weight of 33 – 35 g, The experiment used
Completely Randomized Design with thirteen treatment, and three replications. Result of the
research showed that the aflatoxin degraded the number of status of antioxidant total (SAT) of liver of
mice and, giving of Extract Wood of Secang (EKS) could slowed down degradation of number of SAT
very real was better than vitamin of E and vitamin C .
Keywords: antioxidant, aflatoxin, extract

Pendahuluan
Status Antioksidan Total (SAT) dalam tubuh
sebagai indikator keadaan kesehatan, bila SAT
rendah berarti sakit dan bila cukup berati sehat. SAT
diukur untuk mengetahui informasi mengenai status
antioksidan atau adanya kekurangan antioksidan
dalam tubuh (Randox laboratories Ltd, 1994).
Angka SAT yang terdapat dalam tubuh ber –
fungsi untuk meredam atau melemahkan serangan
radikal bebas. Dalam keadaan tubuh yang normal
dan sehat senyawa tersebut bersifat penawar,
terutama terhadap serangan radikal bebas yang dapat
memicu terjadinya kanker pada hati.
Radikal bebas adalah atom, molekul, atau
senyawa yang memiliki elektron tidak berpasangan
pada kulit terluarnya. Sifatnya sangat reaktif cenderung
menarik elektron dari molekul lainnya dan
mengakibatkan terjadinya reaksi berantai yang dapat
menghasilkan radikal bebas baru. (Suyatna, 1998;
Halliwel dan Gutteridge, 1999).
Aflatoksin adalah toksin yang dihasilkan jamur
A. flavus dan A. parasiticus yang dapat bertindak
sebagai radikal bebas dan bersifat hepatotoksik dan
hepatokarsinogenik. Aflatoksin B 1 menyebabkan
peningkatan pembentukan radikal bebas atau ROS
(Reactive Oxigene Species) sehingga dapat mengurangi
angka SAT dan menyebabkan kerusakan oks idatif
pada DNA atau pembentukan kanker hati pada tikus
(Yang et al., 2000; Verma dan Nair, 2001).
Antioksidan dalam pengertian kimia adalah
senyawa yang dapat menyumbangkan elektron atau
pemberi elektron, diantaranya vitamin E dan C.
Antioksidan dalam pengertian biologis adalah semua
senyawa yang dapat meredam dan atau me –
nonaktifkan serangan radikal bebas dan ROS atau
Reactive Oxygen Species (Suryohudoyo, 1993, Halliwel
dan Gutteridge, 1999).
Ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L.) hasil
penapisan mengandung lima senyawa aktif yang
terkait dengan flavonoid baik sebagai antioksidan
primer maupun antioksidan sekunder (Safitri, 2002).
Pemberian ekstrak kayu secang ( Caesalpinia
sappan L.) pada mencit yang terpapar aflatoksin
diharapkan dapat menghamba t menurunnya angka
SAT sehingga kerusakan hati dapat dihindari.
Telah diketahui ternyata flavonoid yang ter dapat
dalam ekstrak kayu secang memiliki sejumlah
kemampuan yaitu dapat meredam atau menghambat
pembentukan radikal bebas hidroksil, anion superoksida,
radikal peroksil, radikal alkoksil, singlet
oksigen, hidrogen peroksida (Shahidi, 1999; Miller,
2002).
Hepar atau hati adalah organ yang sering terli bat
dalam metabolisme makanan serta toksikan. Sebagian
besar toksikan masuk ke dalam tubuh mela lui alat
pencernaan yang kemudian diabsorpsi dan dibawa
oleh vena portal hepar kemudian dibawa ke hepar.
Toksikan di dalam hepar dapat mengalami detok sifikasi
tetapi juga dapat dibioaktifkan menjadi lebih
Media Kedokteran Hewan Vol. 21, No. 2, Mei 2005
67
toksik (Lu, 1995; Kodama, 1995). Fungsi hepar da pat
terganggu apabila ada gangguan proses meta bolisme
karena adanya senyawa bersifat racun. Hepar mencit
merupakan salah satu organ utama yang digunakan
sebagai indikator penelitian tentang penga ruh bahan
kimia maupun toksin (Tricklebank, 1994).
Materi dan Metode
Mencit Swiss Webster jantan umur 8 minggu
dengan berat badan kurang lebih 33 -35 gram,
sebanyak 39 ekor, dibagi menjadi 13 grup semua
diberi ransum basal. Pemberian aflatoksin hanya
dilakukan pada hari pertama dan hari ke 8,
sedangkan antioksidan diberikan setiap hari Sesu ai
perlakuan masing-masing grup: ke-1 sebagai kontrol,
ke-2 Aflatoksin 25μg/ekor ke-3 Aflatoksin 50μg/ekor,
ke-4 Aflatoksin 25μg/ekor + vitamin E2 mg/ekor/hari,
ke-5 Aflatoksin 50μg/ekor + vitamin E2 mg/ekor/hari,
ke-6 Aflatoksin 25μg/ekor+vitamin C2 mg/ekor/hari,
ke-7 Aflatoksin 50μg/ekor+vitamin C2 mg/ekor/hari,
ke-8 Aflatoksin 25μg/ekor+ EKS 6 mg/ekor/hari,
ke-9 Aflatoksin 50μg/ekor+ EKS 6 mg/ekor/hari, ke –
10 Aflatoksin 25μg /ekor + EKS 12 mg/ ekor/hari,
ke-11 Aflatoksin 50μg/ekor+ EKS 12 mg/ekor/hari,
ke-12 Aflatoksin 25μg/ekor+ EKS 24 mg/ekor/hari
dan ke-13 Aflatoksin 50μg/ekor+EKS24 mg/ekor/hari.
Percobaan dilakukan selama 15 hari, kemudian
mencit dibunuh satu persatu dengan khloroform dan
diambil organ hepar/hati untuk bahan analisis satuan
antioksidan total.
Metode yang dilakukan secara eksperimental,
menggunakan rancangan acak lengkap dengan 13
macam perlakuan dan 3 kali ulangan. Peubah yang
diukur adalah satuan antioksidan total ( SAT) dari
hati mencit pada masing-masing perlakuan.
Hasil dan Pembahasan
Analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh
antioksidan yang sangat nyata (P< 0,01) dan hasil uji
Duncan ditampilkan pada tabel 1.
Mencit yang tidak diberi perlakuan (R 0),
menunjukkan angka SAT 8,86 mm ol/L. Ini berarti
bahwa mencit dalam keadaan sehat dan hati mencit
dalam kondisi baik dan belum terpengaruh oleh
bahan toksik.
Pada pemberian aflatoksin 25μg/ekor (R 1), angka
SAT langsung turun sangat mencolok yaitu hanya
3,85 mmol/L dan berbeda sangat nyata lebih rendah
dibanding kontrol dan perlakuan lainnya. Ini berarti
bahwa aflatoksin sudah mulai bekerja dan mulai
merusak hati. Aflatoksin dapat memicu pem bentuk
radikal bebas yang menyerang sel -sel hati dan dapat
megakibatkan persediaan SAT ber kurang untuk
meredam radikal bebas, yang dibuktikan dengan
sangat rendah angka SAT (Lu, 1995; Kodama, 1995).
Tabel 1. Rataan SAT (mmol/L) pada Hati Mencit
Perlakuan
Perlakuan Ratarata
R0 (Ransum basal) sebagai kontrol 8,86 g
R1 (Ransum basal + Aflatoksin 25μg/ekor) 3,85 b
R2 (Ransum basal + Aflatoksin 50 μg/ekor) 2,39 a
R3 (Ransum basal + Aflatoksin25μg/ekor +
Vit E) 5,28 cd
R4 (Ransum basal + Aflatoksin50 μg/ekor
+ Vit E) 4,75 bc
R5 (Ransum basal + Aflatoksin25μg/ekor +
Vit C) 4,62 bc
R6 (Ransum basal + Aflatoksin50 μg/ekor
+ Vit C) 3,62 b
R7 (Ransum basal + Aflatoksin25μg/ekor +
EKS 6 mg/ekor ) 5,24 cd
R8 (Ransum basal +Aflatoksin 50μg/ekor +
EKS 6 mg/ekor ) 4,38 bc
R9 (Ransum basal + (Aflatoksin 25μg/ekor
+ EKS 12 mg/ekor) 7,58 f
R10 (Ransum basal +Aflatoksin 50 μg/ekor
+ EKS 12 mg/ekor) 6,22 de
R11 (Ransum basal +Aflatoksin 25μg/ekor +
EKS 24 mg/ekor) 6,66 ef
R12 (Ransum basal +Aflatoksin 50μg/ekor +
EKS 24 mg/ekor)
6,24 de
Superskrip yang sama kearah kolom menun jukkan
tidak bebeda nyata (p<0,01)
Pada pemberian aflatoksin 50 μg/ekor, angka
SAT hati mencit semakin turun sampai mencapai
2,39 mmol/L dan berbeda nyata lebih rendah
dibanding kontrol dan perlakuan vitamin E, vitamin
C dan EKS. Ini berarti bahwa den gan meningkatnya
dosis aflatoksin, pembentukan radikal bebas makin
banyak dan kerusakan hati semakin parah, dan
angka SAT hati mencit semakin rendah. Hal ini
disebabkan karena SAT yang ada digunakan untuk
meredam radikal bebas (Suryohudoyo, 1993, Halliwe l
dan Gutteridge, 1999).
Pada pemberian vitamin E (R 3 dan R4 ) angka
SAT hati mencit menunjukkan 5,28 dan 4,75 mmol/L,
berbeda sangat nyata lebih tinggi dari R 1 dan R2. Ini
menunjukkan bahwa vitamin E mempunyai kemam –
puan antioksidan dan dapat meningkatk an angka SAT
hati mencit yang telah terpapar aflatoksin, dari 3,85
mmol/L naik jadi 5,28 mmol/L dan dari 2,39 mmol/L
naik jadi 4,75 mmol/L. Sejalan dengan hasil peneli –
tian Verma dan Nair, 2001, bahwa mencit yang ter –
papar aflatoksin yang diberi vitamin E 2mg/ekor/hari
Udju D. Rusdi dkk; Efek Ekstrak Kayu Secang, vitamin E dan dan Vitamin C terhadap …
68
selama 45 hari menunjukkan bahwa antioksidan
vitamin E dapat meningkatkan SAT, baik pada
mencit yang terpapar aflatoksin dosis rendah 25
μg/ekor/hari maupun dosis tinggi 50 μg/ekor/hari.
Pada pemberiaan vitamin C (R 5 dan R6 ) angka
SAT menunjukkan 4,62 dan 3,62 mmol/L, berbeda
sangat nyata lebih tinggi dari R 2. Ini menunjukkan
bahwa vitamin C mempunyai kemampuan anti –
oksidan dan dapat meningkatkan angka SAT hati
mencit yang telah terpapar aflatoksin dari 3,85
mmol/L naik jadi 4,62 mmol/L dan dari 2,39 mmol/L
naik jadi 3,62 mmol/L. Kemampuan antioksidan
vitamin C tidak sebaik vitamin E dan EKS.
Pada pemberian EKS (R7 s/d R12) angka SAT
hati mencit menunjukkan 4,38 s/d 7,58 mmol/L
berbeda sagat nyata lebih tinggi dari R 2. Ini berarti
bahwa EKS mempunyai kemampuan antioksidan
dan dapat meningkatkan angka SAT hati mencit
yang telah terpapar aflatoksin, malahan pemberian
EKS 12 s/d 24 mg/ekor) meningkat jadi 6,22 s/d 7,58
mmol/L sangat nyata lebih baik dari perlakuan
vitamin C maupun vitamin E.
Dilihat dari keseluruhan kerja dari EKS sebagai
antioksidan sangat nyata lebih baik dalam mening –
katkan angka SAT pada hati mencit yang telah
terpapar aflatoksin dibandingkan dengan antioksidan
lainnya, meskipun belum mampu menyamai kontr ol.
SAT adalah gambaran secara keseluruhan ada –
nya kandungan antioksidan untuk dapat meredam
radikal bebas dalam tubuh mencit yang terpapar
aflatoksin. Semakin tinggi dosis aflatoksin semakin
berkurang angka SAT dalam tubuh, sampai titik kritis
yang dapat menyebabkan kerusakan hati dan
terbentuk kanker hati.
Mc Cusker dan Fitz Gerald (1995) dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa pasien yang
menderita rematik jantung dan pernafasan, produksi
radikal bebas lebih tinggi dibanding pasien normal
sehingga SAT pada pasien penderita lebih rendah
dibanding pasien normal.
EKS dapat meningkatkan SAT yang lebih tinggi
karena mekanisme pendonasian H dari gugus OH
senyawa antioksidan 1–5. Mekanisme reaksi radikal
5 senyawa aktif`antioksidan EKS adalah reaksi
substitusi yang diawali dari pelepasan radikal
hydrogen dari gugus OH yang akan bereaksi dengan
radikal lipid (LOO*, L*) membentuk produk stabil.
Inti aromatik yang tersubstitusi radikal lipid akan
tetap berada dalam sistem aromatiknya untuk mem –
pertahankan kestabilan strukturnya, sebagai contoh
mekanisme donasi elekktron senyawa 1 (Saf itri, 2002).
Demikian pula pendapat Shahidi (1999) bahwa radikal
flavonoid dapat meredam kembali radikal bebas
lainnya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa: 1) Aflatoksin dapat merusak hati dan
menurunkan angka SAT dari 8,86 mmol/L menjadi
2,39-3,85 mmol/L; 2). Antioksidan vitamin E mampu
meningkatkan angka SAT dari 2,39-3,85 mmol/L
menjadi 4,65-5,28; 3) Antioksidan vitamin C hanya
mampu meningkatkan angka SAT hati mencit yang
terpapar aflatoksin dosis rendah 4) Ekstrak kayu
secang mempunyai kemampuan anti oksidan sangat
nyata paling baik dari pada vitamin C maupun
vitamin E, dan mampu meningkatkan SAT dari 2,39-
mmol/L menjadi 4,38-7,58 mmol/L.
Daftar Pustaka
Halliwel, B., J.M.C. Gutteridge. 1999. Free Radicals in
Biology and Medicine. Oxford University Press.
New York.
Kodama, A.M. 1995. Mechanisms of Some Liver
Injuries Induced by Toxicants. http://www2.
hawaii.edu/~gzhang/liver.html
Lu, F.C. 1995. Toksikologi Dasar Asas, Organ Sasaran,
dan Penilaian Resiko. UI-Press. Jakarta
Miller, A. L. 2002. Antioxidant Flavonoid Structure
Function and Clinical Usage.
http://www.Thorne.com/alt medrev/fulltext/flavon
oids 1-2 html.
Randox Laboratories Ltd. 1994. Total Antioxidant
Status. Ardmore, Diamond Road, Crumlin, Co.
Antrim, United Kingdom. BT294 QY
Safitri, R. 2002. Karakterisasi Sifat Antioksidan In
Vitro Beberapa Senyawa Yang Terkandung
Dalam Tumbuhan Secang (Caesalpinia sappan L.).
Disertasi. Program Pasca Sarjana Universitas
Padjadjaran. Bandung.
Shahidi, F. 1996. Natural Antioxidants. Chemistry,
Health Effects, and Applicatins. AOCS Press.
Champaign. Illionis.
Suryohudoyo, P. 1993. Oksidan, Antioksidan Dan
Radikal Bebas. Laboratorium Biokimia Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.
Tricklebank, K. A. 1994. Ultrastructure of fish liver :
An early warning of of pollution. Proceedingof
the First Australian Ecotoxicology Conference.
Verma, R.J., A. Nair. 2001. Amelio rative effect of
vitamin E on aflatoxin induced lipid peroxida –
tion in testis of mice. Asian J Androl 3: 217-221.
Yang, C.F., H.M. Shen, C.N., Ong. 2000. Protective
Effect of Ebselen on Afla toxin B1-Induced Cytotoxicityin
Primary Rat Hepatocytes. Pharmacol
Toxicol. 2000 Apr; 86 (4) : 156 – 161

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: