contoh proposal biologi

PROPOSAL JUDUL SKRIPSI
ANALISIS KUALITATIF BAKTERI KOLIFORM PADA DEPO AIR MINUM ISI ULANG DI DESA MULYAJAYA DAN SUMBANGANNYA UNTUK PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA

Nama : Dilla frastantie
NIM : 56071009003

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Faktor-faktor biotik yang terdapat di dalam air terdiri dari bakteria, fungi, mikroalgae, protozoa dan virus, serta kumpulan hewan ataupun tumbuhan air lainnya yang tidak termasuk kelompok mikroba. Kehadiran mikroba di dalam air dapat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan.
1) Menguntungkan
a. Banyak plankton, baik fitoplankton ataupun zooplankton merupakan makanan utama ikan, sehingga kehadirannya merupakan tanda kesuburan perairan tersebut. Jenis-jenis mikroalgae misalnya : Chlorella, Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus, Tabellaria.
b. Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai jasad ”dekomposer”, artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan untuk mengurai atau merombak senyawa yang berada dalam badan air. Sehingga kehadirannya dimanfaatkan dalam pengolahan buangan di dalam air secara biologis
c. Pada umumnya mikroalgae mempunyai klorofil, sehingga dapat melakukan fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis akan menambah jumlah oksigen, sehingga nilai kelarutan oksigen akan naik/ber-tambah, ini yang diperlukan oleh kehidupan di dalam air.
d. Kehadiran senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi dimanfaatkan oleh jasad pemakai/konsumen. Tanpa adanya jasad pemakai kemungkinan besar akumulasi hasil uraian tersebut dapat mengakibatkan keracunan terhadap jasad lain, khususnnya ikan.

2) Merugikan
1. Yang paling dikuatirkan, bila di dalam badan air terdapat mikroba penyebab penyakit, seperti : Salmonella penyebab penyakit tifus/paratifus,Shigella penyebab penyakit disentribasiler, Vibrio penyebab penyakit kolera, Entamoeba penyebab disentriamuba.
2. Di dalam air juga ditemukan mikroba penghasil toksin seperti : Clostridium yang hidup anaerobik, yang hidup aerobik misalnya: Pseudomonas,Salmonella, Staphyloccus, serta beberapa jenis mikroalgae seperti Anabaena dan Microcystis
3. Sering didapatkan warna air bila disimpan cepat berubah, padahal air tersebut berasal dari air pompa, missal di daerah permukiman baru yang tadinya persawahan. Ini disebabkan oleh adanya bakteri besi missal Crenothrix yang mempunyai kemampuan untuk mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri.
4. Di permukiman baru yang asalnya persawahan, kalau air pompa disimpanmenjadi berbau (bau busuk). Ini disebabkan oleh adanya bakteri belerang misal Thiobacillus yang mempunyai kemampuan mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S.
5. Badan dan warna air dapat berubah menjadi berwarna hijau, biru-hijau atau warna-warna lain yang sesuai dengan warna yang dimiliki oleh mikroalgae. Bahkan suatu proses yang sering terjadi pada danau atau kolam yang besar yang seluruh permukaan airnya ditumbuhi oleh algae yang sangat banyak dinamakan blooming. Biasanya jenis mikroalgae yang berperan didalamnya adalah Anabaena flosaquae dan Microcystis aerugynosa.

Dalam keadaan blooming sering terjadi kasus-kasus :
– Ikan mati, terutama yang masih kecil yang disebabkan karena jenis-jenis mikroalgae tersebut dapat menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan.
– Korosi atau pengkaratan terhadap logam (yang mengandung senyawa Fe atau S), karena di dalam massa mikroalgae penyebab blooming didapatkan pula bakteri Fe atau S penghasil asam yang korosif. Ada pernyataan bahwa air jernih belum tentu bersih. Ini dihubungkan dengan keadaan bahwa air, sejak keluar dari mata air, sumur, ternyata sudah mengandung mikroba, khususnya bakteri atau mikroalgae. Pada air yang kotor atau sudah tercemar, misal air sungai, air kolam, air danau dan sumbersumber lainnya, disamping akan didapati mikroba seperti pada air jernih, juga kelompok mikroba lainnya yang tergolong penyebab penyakit, penghasil toksin, penyebab blooming, penyebab korosi,penyebab deteriorasi, penyebab pencemaran ini adalah bakteri coli.

1.2 Perumusan Masalah

Bagaimana cara menganalisa atau mendeteksi bakteri koliform dalam air minum isi ulang pada depo di desa Mulyajaya dengan uji pendugaan (presumptive test)?

1.3 Tujuan penelitian
Sejalan dengan orientasi latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini dilakukan untuk :
a. Mengobservasi dan menganalisis di laboratorium mutu air pada depo air minum isi ulang di desa Mulyajaya berdasarkan uji penduga pada standarkualitatif pemeriksaan air
b. Mendapatkan informasi tentang sumber air baku yang dipergunakan pada depo air minum isi ulang di kota Singaraja
c. Mendeskripsikan dan menganalisis prosedur pemrosesan air minum yang dilaksanakan pada depo air minum isi ulang di desa Mulyajaya

1.4 Ruang lingkup penelitian
Untuk menghindari meluasnya pembahasan,sehingga lebih terarah maka dibatasi pada kualitatif bakteri koliform pada depo air minum isi ulang di desa Mulyajaya
1.5 Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi khususnya kepada konsumen air minum isi ulang dalam upaya perlindungan terhadap kesehatan masyarakat. Secara lebih rinci, manfaat penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.5.1 Analisiss kualitas mutu air minum isi ulang berdasarkan kehadiran bakteri koliform pada uji penduga, dapat digunakan untuk mengetahui apakah air minum tersebut sudah terbebas dari mikroba atau ada cemaran mikrobanya sebagai upaya perlindungan terhadap kesehatan masyarakat.
1.5.2 Informasi tentang prosedur pemrosesan air minum yang dilaksanakan pada depo air minum isi ulang akan memberikan dukungan terhadap analisis kualitas yang dilaksanakan di laboratorium.
1.5.3 Hasil penelitian ini dapat menambah kesadaran pentingnya peningkatan pengawasan kualitas air pada depo air minum isi ulang di desa Mulyajaya

II. LATAR BELAKANG

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun mahluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air, seperti di dalam sel tumbuhan terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel hewan terkandung lebih dari 67%. Dari sejumlah 40 juta mil-kubik air yang berada di permukaan dan di dalam tanah, ternyata tidak lebih dari 0,5% (0,2 juta mil-kubik) yang secara langsung dapat digunakan untuk kepentingan manusia. Karena 97% dari sumber air tersebut terdiri dari air laut, 2,5% berbentuk salju abadi yang baru dalam kedaan mencair dapat digunakan. Keperluan sehari-hari terhadap air, berbeda untuk tiap tempat dan untuk tiap tingkatan kehidupan. Yang jelas, semakin tinggi taraf kehidupan, semakin meningkat jumlah keperluan akan air. Menurut Departemen Kesehatan (1994), di Indonesia rata-rata keperluan air adalah 60 liter per kapita, meliputi : 30 liter untuk keperluan mandi, 15 liter untuk keperluan minum dan sisanya untuk keperluan lainnya. Untuk negara-negara yang sudah maju, ternyata jumlah tersebut sangat tinggi, seperti : untuk kota Chicago dan Los Angeles (Amerika Serikat) masing-masing 800 dan 640 liter, kota Paris (Perancis) 480 liter, kota Tokyo (Jepang) 530 liter dan kota Uppsala (Swedia) 750 liter per kapita per hari. Sejalan dengan kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan, maka jumlah penyediaan air selalu meningkat untuk setiap saat.
Akibatnya kegiatan untuk pengadaan sumber-sumber air baru, setiap saat terus dilakukan antara lain dengan:
1) Mencari sumber-sumber air baru, baik berbentuk air tanah, air sungai, air danau.
2) Mengolah dan menawarkan air laut.
3) Mengolah dan menyehatkan kembali
Sumber air kotor yang telah tercemar seperti air sungai, air danau. Masalah pelik yang harus dihadapi dalam masalah mengolah air adalah karena semakin meningkat dan tingginya pencemaran yang memasuki badan air. Pencemaran tersebut dapat berasal dari:
1) Sumber domestik, yang terdiri dari rumah tangga
2) Sumber non-domestik, yang terdiri dari kegiatan pabrik, industri, pertanian.

Menurut Unus Suriawiria (1995), perairan alami memang merupakan habitat atau tempat yang sangat parah terkena pencemaran. Sehingga rumus kimia air : H2O, merupakan rumus kimia air yang hanya berlaku untuk air bersih seperti akuades, akuademin dan sebagainya. Sedang untuk air alami yang berada di dalam sungai, kolam, danau, laut dan sumber-sumber lainnya akan menjadi : H2O ditambah dengan :
– Faktor yang bersifat biotik
– Faktor yang bersifat abiotik
Faktor-faktor biotik yang terdapat dalam air terdiri dari : bakteria, fungi,mikroalgae, protozoa, virus serta sekumpulan hewan ataupun tumbuhan air lainnya yang tidak termasuk kelompok mikroba. Kehadiran mikroba di dalam air mungkin akan mendatangkan keuntungan tetapi juga akan mendatangkan kerugian. Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga seperti untuk air minum, air mandi, dan sebagainya harus memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan peraturan internasional (WHO dan APHA) ataupun peraturan nasional dan setempat. Dalam hal ini kualitas air bersih di
Indonesia harus memenuhi persyaratan yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.173/Men.Kes/Per/VIII/77 dimana setiap komponen yang diperkenankan berada di dalamnya harus sesuai. Air tawar bersih yang layak minum, kian langka di perkotaan. Sungai-sungai yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septic maupun air permukaan. Itulah salah satu alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah. Air minum isi ulang menjadi jawabannya. Air minum yang bisa diperoleh di depo-depo itu harganya bisa sepertiga dari produk air minum dalam kemasan yang bermerek. Karena itu banyak rumah tangga beralih pada layanan ini. Hal inilah yang menyebabkan depo-depo air minum isi ulang bermunculan. Keberadaan depo air minum isi ulang terus meningkat sejalan dengan dinamika keperluan masyarakat terhadap air minum yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi. Meski lebih murah, tidak semua depo air minum isi ulang terjamin keamanan produknya. Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) atas kualitas depo air minum isi ulang di Jakarta (Kompas, 2003) menunjukkan adanya cemaran mikroba dan logam berat pada sejumlah contoh. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1997/2002 tentang Syaratsyarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, pengawasan mutu air pada depo air minum menjadi tugas dan tanggung jawab dinas kesehatan kabupaten/kota. Berdasarkan paparan di atas, maka perlu dilakukan uji bakteriologis pada air minum isi ulang pada depo yang terdapat di Desa Mulyajaya.

III. METODA PENELITIAN

Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah air minum isi ulang pada depo yang terdapat di Desa Mulyajaya dusun 4 no.8 rt.20 rw.4 Mesuji Raya .OKI Sumatra selatan
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di desa mulyajaya . Tahap observasi, analisis dari segi
bakteriologis dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Pendidikan Biologi
FKIP-MIPA UNIVERSITAS SRIWIJAYA . Waktu penelitian Juli-Agustus 2010

Teknik pengumpulan data

Tahap observasi dan analisis contoh-contoh air minum isi ulang berdasarkan kehadiran bakteri koliform dari uji penduga dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi , Jurusan Pendidikan Biologi FKIP-MIPA UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah : (1) persiapan alat dan bahan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: